Krisis 'Digital Burnout': Tren Urban Living Terbaru Saat Anak Muda Jakarta Mulai Berbondong-bondong 'Pensiun' dari Media Sosial demi Komunitas Nyata
Uncategorized

Krisis ‘Digital Burnout’: Tren Urban Living Terbaru Saat Anak Muda Jakarta Mulai Berbondong-bondong ‘Pensiun’ dari Media Sosial demi Komunitas Nyata

Lo pernah nggak sih, buka Instagram cuma buat cek notif, eh malah scroll 40 menit tanpa sadar? Terus ngerasa hampa. Nggak dapet apa-apa. Cuma kepala makin penuh.

Banyak yang ngalamin. Dan sekarang, makin banyak yang mutusin buat berhenti.

Bukan berhenti sebentar. Tapi benar-benar “pensiun” dari media sosial. Atau setidaknya, dari versi media sosial yang bikin capek. Fenomena ini lagi naik banget di Jakarta. Anak muda kota, profesional, pekerja kreatif—mereka yang biasanya paling aktif online—justru yang paling depan mundur.

Bukan Sekadar Digital Detox Biasa

Kalau dulu “digital detox” artinya puasa medsos sehari atau seminggu, sekarang maknanya beda. Ini bukan puasa sementara. Ini pensiun dini.

Istilahnya “zero post.” Akun tetap ada. Kadang masih buka story orang. Sesekali kasih like. Tapi nggak pernah posting apa-apa lagi. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun.

Kyle Chayka dari The New Yorker yang pertama kali populerin istilah ini. Dia nulis soal gimana pengguna biasa—bukan influencer, bukan brand—mulai berhenti bagi-bagi kehidupan mereka di medsos.

Dan data mendukung. Studi The Financial Times yang survei 250 ribu pengguna di 50 negara nemuin penggunaan media sosial turun 10 persen. Yang paling turun? Gen Z. Generasi yang dulu paling “chronically online”.

Di Indonesia, BPS nyatat 63 persen Gen Z masih aktif “menelusuri” media sosial. Tapi banyak yang jadi silent user. Nggak posting. Nggak komentar. Nggak ikut ramai.

Kenapa Mereka Kabur?

Ada beberapa alasan. Dan semuanya nyambung satu sama lain.

Pertama, medsos udah nggak jadi tempat buat temen lagi. Dulu, kamu buka Instagram buat lihat foto liburan temen. Sekarang? Iklan. Konten viral yang diulang terus. Influencer yang jualan. Konten AI yang makin susah dibedain dari asli.

Alih-alih ruang personal, platform jadi mesin komersial. Kamu nggak lagi ngelihat kehidupan orang terdekat. Kamu ngelihat apa yang algoritma pengen kamu lihat.

Kedua, kelelahan mental yang nyata. Ada istilah “digital burnout.” Ini bukan cuma ngerasa capek. Ini kelelahan kognitif dan emosional yang diakibatin paparan layar nonstop.

Riset DataReportal 2024 nyatat anak muda Indonesia rata-rata ngabisin 8 jam 6 menit di depan layar setiap hari. Naik dari 7 jam tahun sebelumnya.

Dan itu bukan 8 jam yang nyaman. Itu 8 jam yang bikin otak kerja lembur. Doomscrolling—scroll konten negatif tanpa henti—bikin sistem saraf kamu dalam mode waspada terus. Kortisol naik. Kamu ngerasa terancam padahal nggak ada ancaman nyata.

Ketiga, perbandingan sosial yang nggak ada habisnya. Psikolog bilang 90 persen perempuan ngaku pernah bandingin diri mereka sama orang lain di medsos. Laki-laki 60 persen.

Kamu tahu itu semua kurasi. Kamu tahu itu semua filter. Tapi tetap aja, rasanya menyakitkan. Kamu scroll, lihat orang dapet pekerjaan bagus, liburan ke Eropa, beli rumah. Kamu di sini. Nggak kemana-mana. Nggak ngapa-ngapain. Nggak jadi siapa-siapa.

Keempat, medsos jadi terasa palsu. Konten AI di mana-mana. Bot di mana-mana. Ada “dead internet theory” yang bilang sebagian besar internet sekarang bukan hasil manusia lagi. Kalau kamu ngerasa ngomong sama tembok, ya wajar. Kamu mungkin memang ngomong sama tembok.

Mereka Kabur ke Mana?

Jawabannya: ke tempat yang ada manusia sungguhan.

Ada fenomena “Digital Detox Meetup” yang muncul di Jakarta dan Bandung. Orang-orang kumpul tanpa ponsel. Baca buku cetak. Meditasi bareng. Ngobrol tatap muka.

Ada juga komunitas WFC Journal. Namanya mungkin kedengaran kayak grup kerja biasa. Tapi ceritanya menarik.

Amel Susanti, 24 tahun, pekerja teknologi yang merantau ke Jakarta. Dia extrovert. Tapi kerja remote. Sendirian. Di kafe. Setiap hari. Dia curhat di TikTok soal kesepiannya.

Responsnya? Banyak banget. DM masuk. Orang-orang ngajak kerja bareng. Awalnya enam orang. Sekarang komunitasnya 650 orang lebih.

Mereka kerja bareng. Di kafe. Tapi nggak ngobrol terus-menerus. Kadang cuma duduk berdekatan. Masing-masing sibuk dengan laptop. Tapi ada kehadiran. Ada manusia lain. Dan itu cukup.

Fenomena lain: komunitas main. Jakarta Komunitas Bermain, atau KBM. Mereka main lompat tali di car free day. Main bola bekel. Main karet. Permainan yang dulu dianggap “jadul” sekarang jadi cara buat bertemu orang sungguhan.

Ada juga yang balik ke Blok M. Sosiolog Rakhmat Hidayat bilang anak muda butuh “third place”—ruang ketiga di luar rumah dan tempat kerja. Blok M nawarin itu. Kafe, ruang kreatif, trotoar yang nyaman buat jalan kaki.

Tiga Cerita dari Lapangan

Cerita pertama: Rahmawati, 20 tahun, Makassar. Dia mulai digital detox awal 2026. Alasannya simpel: susah fokus belajar. Kebanyakan buka medsos. Sekarang aplikasinya dibatasi beberapa jam sehari. “Supaya lebih fokus dan nggak gampang capek,” katanya.

Cerita kedua: Amel dan WFC Journal. Awalnya cuma curhat soal kesepian. Sekarang jadi gerakan. Anggota komunitasnya 650 orang. Mereka kerja bareng di kafe, sering juga bikin workshop kayak sulam. Yang penting bukan produktivitasnya. Yang penting ada teman.

Cerita ketiga: Pak tua di car free day. Seorang bapak-bapak lewat, lihat anak-anak muda main lompat tali. Dia berhenti. Lihat sebentar. Akhirnya ikut lompat. Anak kecil ikut juga. Rame-rame ketawa.

Itu yang nggak bisa dikasih algoritma. Momen spontan. Koneksi manusia yang nggak direncanain.

Jangan Lakukan Kesalahan Ini

Pertama, jangan jadikan pensiun medsos sebagai ajang flex baru. Kalau kamu berhenti posting cuma buat bikin konten “aku udah zero post loh,” kamu belum paham. Kamu cuma pindah panggung.

Kedua, jangan merasa harus ekstrem. Nggak semua orang harus hapus akun. Nggak semua orang harus beli dumbphone. Mulai dari yang realistis. Matiin notif. Jangan bawa HP ke kamar tidur. Itu udah cukup buat mulai.

Ketiga, jangan lupakan bahwa medsos juga punya sisi baik. Komunitas kayak WFC Journal lahir dari TikTok. KBM dikenal lewat Instagram. Jadi ini bukan soal “digital jahat, offline baik.” Ini soal pake teknologi dengan cara yang nggak bikin kamu benci diri sendiri.

Keempat, jangan kaget kalau awal-awal kosong. Kalau kamu pensiun dari medsos, tiba-tiba ada ruang kosong di hari kamu. Dulu satu jam habis buat scroll. Sekarang nggak. Itu normal. Isi dengan hal lain. Tapi jangan panik dulu. Nikmatin kosongnya.

Tips Praktis: Mulai dari Mana?

  1. Coba “No-Input Power Hour.” Satu jam pertama setelah bangun, jangan sentuh layar sama sekali. Nggak cek email. Nggak buka berita. Nggak buka Slack. Cuma output: nulis, mikir, rencana. Ini melatih otak buat nggak langsung masuk mode reaktif.
  2. Bikin “zona bebas HP” di rumah. Kamar tidur. Meja makan. Tempat-tempat ini sebaiknya bebas dari ponsel. Beli alarm jam kalau perlu.
  3. Cari satu komunitas offline. Nggak harus yang formal. Komunitas lari. Komunitas buku. Komunitas main. Yang penting tatap muka. Yang penting rutin.
  4. Mulai dari 30 menit. Nggak perlu langsung puasa medsos sehari. Coba 30 menit tanpa HP. Lalu sejam. Lalu dua jam. Naik pelan-pelan.
  5. Jangan perfeksionis. Kadang kamu bakal gagal. Bakal balik scroll. Bakal ngerasa FOMO. Nggak apa-apa. Besok coba lagi. Yang penting arahnya bener.

Jadi, Apa Artinya Semua Ini?

Ada satu hal yang sering dilupain. Media sosial itu alat. Bukan identitas. Bukan ukuran harga diri. Bukan tempat kamu harus “ada” biar dianggap hidup.

Anak muda Jakarta yang “pensiun” dari medsos bukan sedang kabur dari teknologi. Mereka sedang nyari sesuatu yang lebih dasar: koneksi manusia yang nyata.

Mereka pengen ngobrol tanpa notif. Ketawa tanpa harus di-record. Hadir tanpa harus di-post.

Dan di kota yang makin padat, makin cepat, makin berisik—hadir sepenuhnya di satu momen, sama satu orang, itu kemewahan.

Kamu nggak perlu pensiun total. Kamu cuma perlu inget: hidup lo nggak terjadi di layar. Hidup lo terjadi di tempat lo sekarang. Sama orang yang ada di depan lo.

Coba deh, matiin notif sebentar. Lihat sekeliling. Ngobrol sama seseorang. Tanpa HP.

Kedengerannya sederhana. Tapi buat banyak orang, itu langkah pertama yang paling berat

Anda mungkin juga suka...