JOMO 2026: Seni Bahagia dengan Melewatkan Semua Tren yang Lagi Viral
Uncategorized

JOMO 2026: Seni Bahagia dengan Melewatkan Semua Tren yang Lagi Viral

Pernah nggak sih, lo ngerasa capek sendiri gara-gara scrolling TikTok terus liat orang lain pada liburan, pada punya pacar baru, pada makan di tempat hits? Padahal lo cuma di kamar, rebahan. Dan tiba-tiba dada lo sesak, kayak ada yang salah sama hidup lo.

Gue kenal banget perasaan itu. Tapi ternyata, ada gerakan baru yang justru ngerayain momen “rebahan” itu. Namanya JOMO—Joy of Missing Out. Dan di 2026 ini, tren ini lagi meledak, terutama di kalangan Gen Z yang udah mulai muak sama FOMO.


JOMO Itu Apa Sih?

JOMO itu singkatan dari Joy of Missing Out. Kebalikan dari FOMO (Fear of Missing Out). Kalo FOMO bikin lo cemas karena takut ketinggalan tren, JOMO justru bikin lo tenang dan bahagia karena memilih untuk ketinggalan .

Bukan berarti lo jadi antisosial atau males-malesan. JOMO itu tentang pilihan sadar buat nggak ikut-ikutan semua hal yang lagi viral . “Sebenarnya bahagia itu mudah, gak harus ikut semua yang viral,” kata Latifa, mahasiswa Universitas Semarang yang udah mulai nerapin JOMO .

Fenomena ini bukan iseng-iseng, lho. The Global Wellness Summit 2026 bahkan menyebut JOMO sebagai lifestyle medicine—respon klinis buat kelelahan sistem saraf kronis yang disebabkan oleh digital overstimulation . Bayangin, rebahan sekarang dianggap sebagai bentuk penyembuhan.


Kenapa Gen Z Berbondong-bondong Pindah ke JOMO?

Gue liat sendiri, banyak temen gue yang mulai capek. Mental health mereka jeblok. Dan ternyata data juga ngebuktiin:

  • Sebuah laporan menyebut orang yang menerapkan JOMO punya tingkat stres 32% lebih rendah dan tidur 45 menit lebih lama setiap malam dibanding yang masih terjebak FOMO .
  • Survei dari Mindscape Mental Health Institute (2025) mencatat 42% responden Gen Z kini lebih aktif membatasi screen time dan memilih aktivitas offline .
  • Penelitian di jurnal psikologi juga nunjukin JOMO berkaitan dengan rendahnya kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain .

Gue pernah duduk di kafe, liat temen gue yang dari tadi pegang hape terus. Matanya kayak nyari-nyari sesuatu. “Lo kenapa?” tanya gue. “Nggak tau, kok rasanya kayak ada yang kelewatan gitu,” jawabnya. Itu FOMO. Dan gue yakin, lo juga pernah ngerasain.


JOMO Itu Bukan Malas, Ini Bentuk Self-Care

Banyak orang salah paham. Mereka pikir JOMO itu alasan buat jadi pemalas. Padahal nggak. Aktivitas “rebahan” atau bed rotting dalam koridor JOMO dipandang sebagai bentuk istirahat yang fungsional, bukan kemalasan .

Menurut psikolog, JOMO adalah strategi sadar buat menjaga kesehatan mental dari derasnya arus informasi digital . Lo nggak akan merasa bersalah pas milih nggak ikut nongkrong cuma karena lo pengen istirahat. Dan itu sehat!

Yang menarik, penelitian juga nunjukin JOMO justru meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal Gen Z . Kok bisa? Karena dengan nggak sibuk scroll media sosial, lo jadi lebih fokus ngobrol sama orang di depan lo, lebih dalam, lebih bermakna. Hubungan sosial lo jadi lebih berkualitas, bukan cuma sebatas like dan komentar di Instagram.


3 Contoh Nyata: Gue, Temen Gue, dan Orang di Internet

1. Kasus Diani: Detox Digital Biar Fokus Kuliah

Diani, mahasiswa dari Universitas Semarang, ngaku dulu dia sering kecanduan media sosial. “Kadang berita di media sosial bikin males dan capek sendiri,” katanya . Sekarang dia rutin detox digital dan ngerasa lebih konsentrasi kuliah. Caranya? Sederhana: batasin akses, uninstall aplikasi yang nggak penting, dan fokus ke kegiatan offline.

2. Kasus Chloe: Nyoba Bikin Dot Cakes Sendiri

Ini kisah dari luar negeri, tapi gue angkat karena relevan banget. Chloe Rose Steen, 23 tahun, dulunya sering liat video makanan viral dan ngerasa harus nyoba semua. Tapi pas tren dot cakes (kue sederhana dengan taburan gula warna-warni) meledak, dia milih bikin sendiri di rumah. Videonya tentang dia baking justru dapet 20.000 views. Dia sadar: “Akarnya, ya kue sederhana. Tapi itu bagian dari daya tariknya.”  Dia memilih menikmati proses di rumah, bukan ngantri di toko kekinian.

3. Kasus Gue Sendiri: Nolak Nonton Konser

Gue inget banget bulan lalu, temen-temen gue pada nonton konser band luar di GBK. Semua pada post story, rame banget. Gue nggak ikut—bukan karena nggak suka, tapi karena gue lagi capek dan dompet gue lagi tipis. Awalnya gue ngerasa nyesel. Tapi malam itu gue nonton film di Netflix, makan indomie, dan tidur nyenyak. Besoknya gue bangun segar, sementara temen-temen gue pada ngeluh kecapekan. Gue ngerasa menang—tanpa harus ada di mana-mana.


Praktis: Gimana Cara Mulai JOMO?

Gue kasih tips yang beneran gue praktekin dan works:

  1. Detox Digital Secara Bertahap. Mulai dari yang kecil: matiin notifikasi media sosial. Atau tetepin “no screen time” 1 jam sebelum tidur . Nggak usah langsung drastis.
  2. Batasi Perbandingan Sosial. Sadari bahwa apa yang lo liat di media sosial itu highlight reel, bukan realita hidup orang . Mereka nggak ngepost pas lagi ngantri, pas lagi berantem sama pacar, atau pas lagi galau.
  3. Berani Bilang “Nggak”. Lo nggak wajib nerima semua ajakan atau ikut semua tren. “Berani menolak tekanan tren yang tidak relevan,” kata Latifa . Ini tentang prioritas, bukan tentang sombong.
  4. Cari Kesenangan Sederhana. Baca buku, dengerin musik, jalan-jalan pagi, atau sekadar rebahan sambil ngopi. Kebahagiaan nggak harus selalu instagramable .
  5. Investasi ke Diri Sendiri. Bukan cuma perawatan fisik yang diposting ke Insta, tapi yang lebih dalam: perbaiki kualitas tidur, jurnal, meditasi . Ini tentang listening to what your body and soul require.

Kesalahan Umum Saat Coba Terapkan JOMO

  1. Mengira JOMO = Mengasingkan Diri. Ini salah besar. JOMO bukan tentang antisosial, tapi tentang memilih interaksi yang berkualitas . Lo tetap bisa ketemu temen, cuma lebih selektif.
  2. Terlalu Kaku. Jangan merasa bersalah kalau kadang-kadang lo tetap ikut tren atau buka medsos. JOMO itu fleksibel, bukan aturan kaku .
  3. Pura-pura Bahagia. JOMO bukan tentang memaksakan diri bilang “aku senang melewatkan ini” padahal nyesek. Tujuan utamanya adalah mengurangi tekanan, bukan menambah beban baru.
  4. Lupa sama Aktivitas Fisik. Jangan cuma rebahan terus—meskipun istirahat itu penting. JOMO juga tentang nemuin aktivitas yang benar-benar lo nikmati, bukan cuma jadi pasif .

Penutup: Kebahagiaan Itu Nggak Harus Selalu Viral

Di akhir hari, JOMO mengajarkan satu hal: kebahagiaan lo nggak harus diukur dari seberapa banyak tren yang lo ikutin atau seberapa eksis lo di dunia digital .

Berani melepas kendali dari kepungan tren luar adalah langkah awal buat nemuin kedamaian sejati. Kadang, hal paling berani yang bisa lo lakuin adalah bilang “nggak” dan menikmati keheningan. Gengsi? Mungkin. Tapi hati lo tenang. Dan itu, menurut gue, jauh lebih berharga.

Gimana dengan lo? Udah siap nyoba JOMO, atau masih terjebak sama FOMO?

Anda mungkin juga suka...