Di Jakarta, terutama di lingkaran SCBD sampai Kuningan, ada fenomena yang agak nggak masuk akal tapi nyata.
Orang-orang yang dulu selalu online… sekarang malah sengaja nggak bisa dilacak.
Notifikasi mati. LinkedIn diam. WhatsApp centang dua tapi nggak dibalas.
Dan anehnya, itu bukan masalah. itu justru… prestise.
Digital Ghosting dan Lahirnya Kemewahan Baru: Menghilang
Digital Ghosting (primary keyword) adalah praktik disengaja untuk menghilang dari ekosistem digital tanpa penjelasan, tanpa closure, dan tanpa jejak aktivitas.
LSI keywords yang nyangkut di sini:
digital detox elite, burnout recovery strategy, executive anonymity, offline prestige behavior, quiet quitting extreme.
Bukan kabur karena gagal. tapi kabur karena terlalu penuh.
Kenapa Menghilang Justru Jadi Status Baru?
Data dari komunitas eksekutif Jakarta (fiktif tapi realistis 2026):
- 41% C-level di Jakarta pernah melakukan “intentional digital silence” minimal 7 hari
- 1 dari 3 founder startup melaporkan burnout digital parah dalam 12 bulan terakhir
- penggunaan fitur “ghost mode” di platform kerja naik sekitar 58%
Jadi ini bukan hilang karena kalah. tapi hilang karena… terlalu banyak menang.
3 Studi Kasus Digital Ghosting di Jakarta
1. Founder SCBD yang “Offline 21 Hari”
Seorang founder fintech tiba-tiba menghilang dari semua channel.
Tim awalnya panik. investor nanya. email nggak dibalas.
Ternyata dia di Bali, tanpa laptop, tanpa identitas profesional aktif.
“gue cuma butuh nggak jadi siapa-siapa dulu,” katanya setelah balik.
2. CMO Mega Kuningan yang Punya 2 Versi Kehidupan
CMO ini tetap kerja normal, tapi:
- no social media update
- no public appearance
- email diproses delay intentional
Dia bilang,
“gue tetap kerja, tapi gue nggak available sebagai persona.”
3. Circle Founder “Invisible Sundays”
Sekelompok founder Jakarta bikin aturan:
setiap Minggu = digital blackout total.
- no Slack
- no WhatsApp kerja
- no social media
Salah satu dari mereka bilang,
“anehnya, ide terbaik gue justru muncul pas gue nggak ada di mana-mana.”
Cara Melakukan Digital Ghosting (Tanpa Ngerusak Hidup Lo)
Kalau lo mulai burnout, jangan langsung hilang total.
Coba step ini:
- Matikan notifikasi non-esensial dulu (bukan semua sekaligus)
- Set auto-reply jujur tapi minimal
- Tentukan “zona offline harian” (misalnya 2–4 jam)
- Kurangi platform yang sifatnya performatif
- Latih orang sekitar untuk tidak selalu butuh respons cepat
Ini bukan soal kabur. tapi soal kontrol ulang.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Banyak orang gagal di fase ini karena:
- Menghilang tanpa batas waktu → bikin chaos di kerjaan
- Mengira ghosting = lari dari tanggung jawab
- Tidak memberi sistem backup di tim
- Balik terlalu cepat ke pola lama
- Menjadikan ghosting sebagai “aesthetic burnout” (ini yang paling sering di Jakarta, jujur aja)
Kadang orang nggak benar-benar istirahat. cuma pindah tempat lelah.
Inversi Prestise: Saat Tidak Terlihat Jadi Status
Dulu:
- siapa paling aktif
- siapa paling responsif
- siapa paling terlihat
Sekarang mulai berubah.
Yang dianggap “mewah”:
- tidak bisa dihubungi
- tidak perlu validasi publik
- tidak hadir di semua tempat
Dan agak ironis ya… di dunia yang semua orang ingin terlihat, ketidak-terlihatan justru jadi simbol kontrol.
Kadang gue mikir, ini kita lagi hidup… atau lagi kelelahan yang disamarkan sebagai produktivitas?
Kesimpulan
Digital Ghosting (primary keyword) bukan sekadar tren Jakarta.
Ini reaksi diam-diam dari ekosistem yang terlalu bising, terlalu cepat, dan terlalu menuntut “hadir terus”.
Di SCBD, Mega Kuningan, sampai lingkar startup, menghilang bukan lagi tanda masalah.
Tapi tanda bahwa seseorang masih punya kendali atas dirinya sendiri.
