Jujur aja, pernah nggak lo tiba-tiba ngerasa hidup lo lagi ‘sangat China’?
Mungkin lo mulai bangun pagi, bukan buat olahraga berat, tapi buat gerakan pelan kayak tai chi. Atau lo ganti air es pagi lo dengan segelas air hangat. Terus lo sadar, “Lho, ini mah kebiasaan yang dulu sering diejek sama temen-temen gue kenapa sekarang gue lakuin?”
Santai aja. Lo nggak sendirian.
Fenomena yang lagi viral ini punya banyak nama: Chinamaxxing, Becoming Chinese, atau Chinese Baddie . Istilah ini muncul dari candaan di media sosial, dimulai dari tweet X pada April 2025 yang memparodikan kalimat ikonik di film Fight Club, “You met me at a very strange time in my life,” diubah jadi “You met me at a very Chinese time in my life” .
Tapi jangan salah. Ini bukan cuma meme sesaat. Ini adalah gelombang budaya yang bikin jutaan orang—terutama Gen Z di seluruh dunia—mulai ngadopsi kebiasaan sehari-hari khas China .
Yang bikin menarik buat kita di Asia Tenggara? Banyak dari kebiasaan ini sebenernya udah dekat banget sama budaya kita. Tapi kenapa sekarang rasanya kayak kita lagi “belajar” dari China, padahal nenek moyang kita mungkin udah ngelakuin hal serupa?
Dari Meme Menjadi Gaya Hidup: Gimana Tren Ini Meledak
Semuanya dimulai dari kreator TikTok Sherry Xiiruii, seorang Chinese American. Di akhir 2025, dia mulai posting video dengan gaya setengah bercanda: “Mulai besok, lo bakal jadi orang China. Gue tau ini kedengeran menakutkan, tapi nggak ada gunanya melawan sekarang” .
Awalnya itu cuma candaan. Tapi ternyata, jutaan orang ngerasa relate.
Video Sherry tentang minum air hangat—bukan air es—nontonnya 5,5 juta kali. Videonya tentang “orang China nggak pernah jalan kaki di rumah tanpa sandal” ditonton 6,3 juta kali . Dan dari situ, tren ini meledak.
Orang-orang mulai pamer “transformasi” mereka:
- Bawa termos air hangat ke mana-mana
- Ganti salad sama bubur atau sup hangat
- Rebus apel sama goji berry dan kurma merah buat kesehatan usus
- Latihan Baduanjin (senam tradisional China) di pagi hari
- Tidur sebelum tengah malam
Tagar #Chinamaxxing dan #BecomingChinese udah ngumpulin jutaan tayangan . Bahkan ada tantangan livestream buat lihat “siapa yang rutinitas hariannya paling China” . Ini bukan sekadar tren, ini udah kayak gerakan.
Kenapa Tiba-tiba Gaya Hidup China Jadi ‘Keren’?
Sebenernya, ada beberapa alasan kenapa tren ini nyantol banget di hati Gen Z.
1. Capek Sama Budaya Hustle
Generasi kita udah lelah. Bertahun-tahun didorong buat produktif terus, kerja keras tanpa henti, grind culture yang nggak ada ujungnya. Chinamaxxing muncul sebagai antitesis dari semua itu .
Kebiasaan kayak minum air hangat, jalan pelan, atau rebusan herbal itu terasa kayak perlawanan halus terhadap ritme hidup yang serba cepat. Ini bukan tentang “self-optimization” ala Silicon Valley, tapi tentang slow living, preventive wellness, dan merawat diri sebelum sakit .
2. Kekuatan Lunak China yang Makin Terasa
Menurut Brand Finance Global Soft Power Index 2025, China sekarang peringkat ke-2 di dunia dalam hal soft power—naik signifikan dan bahkan ngalahin Inggris . Ini bukan kebetulan.
Kebijakan bebas visa China bikin orang asing gampang banget berkunjung. Pada 2025, lebih dari 150 juta wisatawan mancanegara datang ke China—naik 17% dari tahun sebelumnya . Wisatawan asing sekarang nggak cuma mau lihat Tembok Besar, tapi mau ngerasain kehidupan sehari-hari China: naik kereta cepat, nyobain pijat tradisional, sampe belanja produk elektronik .
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata China, Sun Yeli, ngakui fenomena ini: “‘Menjadi orang China’ telah menjadi frasa populer di internet, mencerminkan kerinduan wisatawan asing akan China” .
3. Konten yang Berbeda dari Korea atau Jepang
Sebelumnya, gelombang budaya Asia yang mendominasi adalah K-pop dan anime Jepang. Tapi sekarang, perhatian mulai bergeser. Kota-kota China kayak Shanghai dan Chongqing—dengan gedung pencakar langit, jalan bersih, dan sistem transportasi canggih—tampak futuristik di mata anak muda Barat .
Ini bukan soal “eksotis” lagi. Ini tentang melihat China sebagai negara yang modern, tertata, dan efisien—sesuatu yang terasa kontras dengan realitas di banyak negara Barat .
Tiga Cerita yang Bikin Fenomena Ini Nyata
1. Sherry Xiiruii, Kreator yang Memicu Tren
Tanpa disadari, Sherry jadi ikon gerakan ini. Video-videonya yang setengah bercanda tentang “cara jadi orang China” bikin jutaan orang ngikutin. Tapi Sherry nggak cuma bercanda. Dia mengajarkan kebiasaan yang dia pelajari dari keluarganya: minum air hangat, pake sandal di rumah, makan bubur. Yang tadinya hal biasa dalam keluarganya, tiba-tiba jadi viral .
2. Emma Peng, Kreator yang Menyambut Tren dengan Terbuka
Kreator China-Amerika lainnya, Emma Peng, bikin video yang welcome banget sama tren ini. Videonya—yang ditonton 5,6 juta kali—berisi pesan: “Gue bangga sama lo. Gue senang banget ketemu lo di fase ‘China’ dalam hidup lo” .
Dia dan kreator China lainnya justru menyambut baik fenomena ini. Nggak ada drama “cultural appropriation” yang sering muncul di tren budaya lain. Malah, banyak yang lihat ini sebagai bentuk apresiasi yang tulus .
3. ULucky, Brand China yang Sukses di Vietnam
Cerita ini beda, tapi nyambung banget. ULucky, brand dari China yang bikin sabuk pemanas rahim dengan ekstrak daun mugwort, masuk pasar Vietnam lewat TikTok Shop. Produknya yang berbasis pengobatan tradisional China justru laris manis di kalangan anak muda Vietnam .
Kenapa? Karena Vietnam—kaya Indonesia—punya kedekatan budaya dengan China. Orang Vietnam udah familiar sama konsep pengobatan tradisional dan ramuan herbal. Brand ini cuma mengemasnya dengan cara modern dan estetik, dan boom, produknya jadi hits .
“Ini bukan cuma soal produk,” kata Owen, tim ULucky. “Ini tentang cara hidup. Produk kami adalah alat buat menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan lebih mindful” .
Di Asia Tenggara: Kita Nggak Asing, Tapi Kenapa Rasanya Kita ‘Belajar’?
Nah, buat kita di Asia Tenggara, situasinya agak beda.
Di Vietnam, misalnya, lo bisa nemuin toko pijat akupresur di mana-mana—bahkan lebih banyak dari di China sendiri . Di Indonesia, kita punya jamu, kerokan, dan berbagai ramuan herbal yang mirip banget sama konsep pengobatan tradisional China. Kita udah punya warisan budaya yang kaya.
Tapi kenapa kita sekarang merasa kayak “belajar” dari China?
Menurut penelitian tentang “cultural proximity” (kedekatan budaya), anak muda Asia Tenggara sekarang lebih terpapar konten digital dari China lewat TikTok, Xiaohongshu, dan platform lain . Data KPMG nunjukin 63% Gen Z di Asia Tenggara udah belanja lewat social commerce, dan mayoritas pake TikTok Shop yang juga platform China .
Kita nggak lagi cuma terpapar produk China, tapi juga cara hidup China. Dan karena platformnya sendiri berasal dari China, algoritmanya cenderung memperkenalkan konten yang “sejalan” dengan narasi China. Efeknya? Kita mulai ngelihat kebiasaan sehari-hari China sebagai sesuatu yang “keren” dan “modern” .
Tapi masalahnya, banyak dari kebiasaan ini sebenernya udah ada di budaya kita sendiri. Cuma kita lupa.
Antara Apresiasi dan ‘Kehilangan Diri’
Ini dia dilemanya.
Di satu sisi, tren Chinamaxxing membawa dampak positif. Orang jadi lebih sadar kesehatan, lebih mindful, dan mulai ngurangin stres dengan gaya hidup yang lebih lambat. Banyak yang akhirnya balik ke kebiasaan sehat yang sebenernya udah ada di budaya lokal mereka, cuma terbengkalai .
Tapi di sisi lain, ada risiko “kehilangan diri.” Kalo kita terlalu sibuk mengadopsi versi China dari kebiasaan sehat, kita bisa lupa kalo kita punya versi sendiri. Minum air hangat? Di Indonesia, kita punya wedang jahe dan berbagai minuman herbal yang nggak kalah berkhasiat. Sandal rumah? Kita udah dari dulu punya budaya lepas sandal sebelum masuk rumah.
Dr. Iim Halimatusa’diyah dari ISEAS-Yusof Ishak Institute bilang, sebenernya generasi muda Asia Tenggara lagi mengartikulasikan identitas regional yang makin kuat lewat media sosial . Tapi ada juga kekhawatiran kalo budaya kita cuma jadi “bayangan” di balik gempuran budaya yang lebih besar.
Ini bukan cuma soal budaya. Ini soal gimana kita memposisikan diri kita di tengah percakapan global yang makin didominasi oleh narasi besar—entah itu dari China, Amerika, atau kekuatan global lainnya.
Gimana Cara Bijak ‘Chinamaxxing’ Tanpa Kehilangan Identitas? 4 Tips!
- Kenali Akar Budaya Sendiri:
Sebelum lo ngikutin tren rebusan goji berry, coba cek: “Apa kita punya versi lokalnya?” Di Indonesia, kita punya jamu, wedang, dan berbagai ramuan tradisional yang nggak kalah manjur. Coba gali lagi warisan yang mungkin udah lo lupain. - Lihat Tren Sebagai Inspirasi, Bukan Ajaran:
Chinamaxxing itu tentang kebiasaan, bukan tentang “menjadi China” secara literal. Ambil esensinya—hidup lebih sehat, lebih mindful, lebih seimbang—tapi aplikasikan dengan cara yang sesuai sama konteks lo. - Jangan Kehilangan Cerita Sendiri:
Kayak yang dibilang sama penelitian tentang Vietnam: negara-negara Asia Tenggara harus punya cerita sendiri, bukan cuma jadi bayangan dari cerita besar China . Lo bisa minum air hangat sambil tetap bangga sama budaya lokal lo. - Tanya Motivasi:
Kenapa lo ngelakuin ini? Karena beneran ngerasa lebih sehat? Atau karena lo liat di FYP dan takut ketinggalan tren? Jawaban jujur bakal bantu lo tetap kontrol, bukan dikontrol.
Penutup: Menjadi Diri Sendiri di Era Global
Tren Becoming Chinese atau Chinamaxxing adalah cerminan dari dunia yang makin terhubung. Kita jadi lebih gampang terpapar budaya lain, dan itu hal yang indah. Tapi kebebasan ini juga tanggung jawab.
Kita bisa minum air hangat, pake sandal rumah, dan rebus apel pake goji berry—sambil tetap minum wedang jahe di sore hari, tetap pake batik, dan tetap makan gado-gado.
Kita bisa jadi “warga dunia” yang terbuka, tapi juga “warga lokal” yang bangga sama akar budayanya.
Karena pada akhirnya, Chinamaxxing bukan tentang “menjadi China.” Ini tentang “menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri,” dengan mengambil inspirasi dari mana pun itu berasal.
Yuk diskusi! Lo ngerasa lagi Chinamaxxing? Kebiasaan apa yang udah lo terapin? Dan gimana cara lo tetep ngejaga identitas lokal? Share di kolom komentar!
