6 Bulan Saya Nggak Beli Apa-Apa yang Baru. Hasilnya, Saya Nggak Tau Lagi Saya Ini Siapa.
Itu niat awalnya simpel: pengen nabung. Stop beli barang baru selama setengah tahun. Kecuali kebutuhan pokok kayak makanan dan obat, semua harus secondhand, sewa, atau pinjem. Gitu aja.
Ternyata, tantangan hidup tanpa beli barang baru ini bukan cuma soal uang. Tapi tentang bagaimana saya, tanpa sadar, selama ini ngejawab pertanyaan “Saya ini siapa?” lewat barang yang saya beli.
Kata kunci utama: eksperimen no buy. Yang bikin oleng mental.
Bulan Pertama: Detoks dan Rasa Gatal yang Aneh
Awalnya ya biasa. Bangga bisa nahan diri. Tapi lalu datang undangan kondangan. Biasanya, ini alasan buat beli baju baru. “Ah, baju lama nggak ada yang cocok.” Kali ini nggak boleh. Akhirnya saya maksain baju lama. Dan di kondangan itu, saya merasa… transparan. Kayak orang lain bisa liat saya pake “baju kemarin”. Padahal, mana ada yang peduli.
Di situlah saya sadar: konsumsi sebagai identitas itu nyata banget. Baju baru itu bukan cuma kain. Tapi “saya yang baru”. Tanpa itu, saya merasa jadi versi diri yang usang.
Contoh spesifik yang bikin sadar:
- HP Jadul dan Krisis “Diri Digital”. HP saya tua. Kamera nggak bagus. Waktu jalan-jalan sama temen, mereka pada ambil foto buat Instagram. Saya? Nggak. Hasilnya, di feed sosial media, seolah-olah saya nggak ada. Saya nggak “ikut” dalam narrative itu. Saya ngerasa ilang. Padahal secara fisik ada di sana. Studi kasus di grup tantangan serupa, 70% anggota ngaku merasa “terputus” dari lingkaran sosial online mereka di bulan-bulan pertama. Karena di era sekarang, kalo kamu nggak posting, kamu nggak eksis.
- “Toko” adalah Cara Saya Habiskan Waktu & Atasi Stres. Sabtu sore, biasanya saya ke mall atau scroll e-commerce. Itu hiburan. Saat saluran itu ditutup, saya harus cari cara lain. Akhirnya saya iseng baca buku dari perpustakaan, atau nelpon nenek. Aktivitas yang nggak menghasilkan “barang” buat dipamerin. Awalnya ngebosenin. Lama-lama, ini yang justru bikin rekonstruksi identitas pelan-pelan. Saya mulai ngedefinisikan diri sebagai “orang yang suka baca sejarah” atau “cucu yang rajin nelpon”, bukan “orang yang gaya pakaiannya kekinian”.
- Teman yang Tanya, “Kok Kamu Berubah?” Setelah 4 bulan, ketemu temen lama. Dia bilang, “Kamu keliatan lebih… tenang. Lebih jelas gitu.” Saya kaget. Saya pikir saya cuma jadi lebih miskin. Ternyata, tanpa hiruk-pikuk keputusan belanja dan noise barang baru, energi mental saya freed up. Saya jadi punya ruang buat mikirin hal lain. Data realistis: Catatan keuangan pribadi saya nunjukkin pengeluaran non-esensial turun 65%. Tapi catatan mood saya juga nunjukkin tingkat kecemasan harian turun 30%. Saya nggak lagi kepikiran “discon besok terakhir”, “item lagi on-fire”.
Tabungannya Bukan Cuma di Rekening, Tapi di Kepala
Uangnya nambah, iya. Tapi yang lebih berharga adalah saya menemukan source identitas yang lain:
- Skill over Stuff. Daripada beli alat kopi fancy, saya belajar manual brew pake alat seadanya. Sekarang saya bangga bisa bikin kopi enak, bukan punya grinder mahal.
- Memory over Merchandise. Uang yang biasanya buat beli souvenir khas dari suatu tempat, sekarang dipake buat naik kereta ke puncak buat liat sunrise. Memorinya nempel lebih lama dari barangnya.
- Connection over Collection. Daripada ngumpulin action figure, saya ngumpulin cerita dari obrolan panjang sama orang yang saya pinjemin buku.
Kesalahan Orang yang Mau Coba “No New Things”:
- Menganggap ini cuma tantangan finansial. Kalo cuma fokus ke uang, lo bakal gagal karena godaan terbesarnya adalah psikologis. Siapin mental buat merasa “kosong” dan “ketinggalan” di awal.
- Membatasi diri secara ekstrem tanpa alternatif. Jangan cuma bilang “jangan beli”. Tapi ganti dengan “saya akan melakukan ini”. Isi kekosongan itu dengan aktivitas baru.
- Malu pakai barang bekas atau jadul. Ini stigma yang harus dihancurkan. Barang bekas itu punya cerita. Dan cerita itu lebih keren dari label “new arrival”.
Gimana Kalo Mau Coba? Jangan 6 Bulan, 30 Hari Dulu.
Lo nggak perlu ekstrem kayak saya. Coba 30 hari. Dengan aturan:
- Define “New Things”. Buat saya, itu barang fisik baru dari toko/e-commerce. Lo bisa definisin sendiri (termasuk maybe digital products?).
- Siapin “Emergency Kit” untuk Stres. Kalo pengen belanja online, langsung alihkan ke aktivitas lain yang udah disiapin: push-up 20 kali, nelpon temen, baca chapter buku. Break the impulse.
- Buat Proyek “Identitas Non-Konsumsi”. Apa satu hal yang bisa lo pelajari atau kerjakan dalam 30 hari itu? Misal, belajar 5 lagu di gitar, atau bikin blog tentang jalan-jalan di kelurahan sendiri.
- Jurnal. Tulis perasaan lo tiap kali pengen beli sesuatu. Apa pemicunya? Bosan? Insecure? Pengen pamer? Dengan nulis, lo akan liat pola dan itu bikin shock sendiri.
Setelah 6 bulan, saya nggak bisa bilang saya “sembuh” dari konsumerisme. Tapi saya sekarang punya pilihan. Saya tau kalo saya lagi sedih dan pengen beli sepatu, itu cuma pelarian. Saya sekarang bisa milih: tetap beli (dan tau risikonya), atau ambil sepeda dan keliling kompleks.
Eksperimen gaya hidup minimalis ini akhirnya bikin saya sadar: identitas kita itu cair. Bisa dibentuk ulang. Dan ternyata, lebih enak membentuknya dengan hal-hal yang kita lakukan dan rasakan, bukan dengan hal-hal yang kita beli. Uang di bank cuma bonus. Transformasi di kepala itu asetnya.
