Jam 7.45 pagi. Lo di kereta. Desek-desekan sama manusia lain yang tatapannya kosong ke HP. Masing-masing sibuk sama dunianya. Lo buka Instagram. Ada influencer lagi yoga di Ubud, pake baju linen, minum jamu, caption-nya “embracing slow living”. Lo scroll lagi. Iklan kopi sachet. “Tuntaskan harimu dengan semangat!” Lo tutup HP. Napas. Lo cuma bisa mikir, kapan terakhir kali gue napas pelan-pelan tanpa merasa bersalah?
Slow living. Dua kata yang belakangan ini mampir terus di FYP lo. Tapi apa iya bisa hidup pelan di kota yang bahkan ojek online pun dimaki kalau telat semenit? Atau ini cuma tren orang-orang yang punya privilege buat kabur dari realita?
Gue akhir-akhir ini mikir. Mungkin jawabannya bukan di Ubud atau di desa. Mungkin jawabannya… di kepala lo sendiri.
Bukan soal Pindah ke Desa, Tapi Mindset
Ini dia yang paling sering disalahpahami. Slow living itu nggak selalu berarti lo resign, jual semua barang, terus tinggal di saung pake dandang. Nggak. Di 2026, slow living buat anak Jakarta tuh… memilih.
Memilih buat ngga bales email jam 9 malam.
Memilih buat jalan kaki ke warung deket kosan, daripada order ojek buat beli gorengan.
Memilih buat masak mi instan sendiri, daripada nungguin ojol yang stuck di macet.
Kedengerannya receh. Tapi coba lo inget-inget, kapan terakhir lo ngelakuin satu hal tanpa multitasking?
Gue ngobrol sama Dita (32), kerja di bank investasi. Lo bayangin deh hiruk-pikuknya kayak gimana. Tapi dia punya ritual aneh.
“Setiap Sabtu pagi, aku sengaja nggak pegang HP sampe jam 10. Aku ke pasar deket kosan. Beli sayur, ngobrol sama ibu-ibu, bawa pulang pake tas belanja. Nggak pake Gojek. Nggak pake earphone. Kedengerannya receh, tapi itu satu-satunya waktu di minggu ini di mana aku ngerasa… ada. Bukan sebagai analis, tapi sebagai manusia.”
Dita bilang, temen-temen kantornya nganggap dia aneh. “Buang-buang waktu,” kata mereka. Tapi Dita merasa justru dengan “membuang waktu” itulah dia bisa mengisi ulang energinya buat hadapi Senin pagi yang brutal.
Data: Orang Kota Mulai Lelah Pura-Pura Sibuk
Sebuah riset kecil-kecilan dari komunitas “Jakarta Berkualitas” (nama fiktif) di awal 2026 nunjukin hal menarik. Mereka survei 1.200 pekerja kantoran di Jabodetabek. Pertanyaannya: “Apakah kamu merasa bersalah ketika tidak melakukan apapun di waktu luang?”
Jawabannya? 73% bilang IYA.
Artinya, kita udah dikondisikan buat merasa “bersalah” kalau lagi diem. Bahkan pas libur pun, kita harus “produktif”. Nonton film harus sambil bales chat. Jalan-jalan harus sambil bikin konten. Makan harus sambil scroll Twitter.
Kita lupa. Being busy is not the same as being productive.
Tapi yang lebih mencengangkan, 6 dari 10 responden juga mengaku irrelevant dengan tren slow living yang sering ditampilkan di media sosial. “Itu mah gaya hidup orang kaya,” kata salah satu responden. “Gue mah kalo Sabtu-Minggu malah bersyukur bisa rebahan. Nggak ada uang buat staycation di hotel mewah cuma buat baca buku.”
Nah, ini poin penting. Slow living versi media sosial sering banget dikemas pake estetika mahal. Baju linen. Kopi manual brew. Rumah kayu. Laptop mahal di kafe sepi. Padahal esensinya bukan itu.
Contoh Slow Living Versi Rakyat Biasa (Yang Nggak Pake Linen)
Ini yang lebih relatable. Orang-orang biasa yang tetap bisa “lambat” di tengah kota yang “cepat”:
- Ritual Kopi Tanpa HP ala Andre. Andre (28) kerja di startup. Setiap pagi, sebelum berangkat, dia punya aturan: 15 menit pertama minum kopi itu tanpa HP. Cuma duduk, lihat jendela, dengerin suara burung (kalo ada) atau suara tetangga. “Kadang otakku masih penat, tapi ritual ini kayak batas tegas. Ini waktunya aku. Bukan waktunya kerja,” katanya. Sederhana. Nggak perlu biaya.
- “Mindful Commute” ala Riri. Riri (34) tiap hari naik KRL dari Bekasi. Perjalanan 1,5 jam. Dulu dia baca berita atau scroll medsos. Hasilnya? Sampe kantor udah stres duluan. Sekarang, 30 menit pertama perjalanan dia pakai buat… nggak ngapa-ngapain. Cuma dengerin musik instrumental (bukan podcast) dan lihat pemandangan. “Kadang ketiduran. Tapi bangunnya lebih seger daripada baca berita politik,” katanya ketawa.
- Minggu Tanpa “Kewajiban Sosial” ala Tama. Tama (41) punya kesepakatan sama diri sendiri. Minggu itu haram hukumnya ada janji temu. Nggak ada kopi-kopian sama teman, nggak ada kumpul keluarga besar (kecuali darurat), nggak ada kondangan. “Minggu itu buat aku dan istri. Jalan kaki keliling komplek, nonton film, atau cuma masak bareng. Kadang temen ngajak ketemu, aku tolak. Awalnya mereka ngambek, tapi sekarang udah ngerti,” ceritanya.
Nah. Tiga orang di atas nggak pake baju linen, nggak staycation di hotel mahal, nggak tinggal di desa. Tapi mereka menjalani slow living versi mereka sendiri.
Tapi Apa Ini Cuma Tren?
Pertanyaan bagus. Apa iya slow living cuma fase kayak dulu tren hygge atau lagom yang muncul terus ilang?
Mungkin iya, sebagai label mungkin nanti berganti nama. Tapi sebagai kebutuhan, gue rasa ini akan menetap. Kenapa?
Karena kota nggak akan pernah melambat. Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan—mereka akan terus ngebut. Kereta cepat, tol layang, gedung pencakar langit. Semuanya dirancang buat lebih cepat. Tapi manusia punya batas. Kita bukan mesin.
Slow living di 2026 itu bukan soal ngelawan arus. Tapi soal nyempil. Nyempil buat ambil napas di tengah arus yang deras.
Gue inget kata seorang temen, “Lo nggak bisa berhentiin hujan, tapi lo bisa berteduh.” Slow living itu teduhnya. Bukan berhentiin kota yang terus ngebut.
Panduan Praktis: Giman Sih Caranya Mulai?
Buat lo yang penasaran tapi bingung mulai dari mana (dan nggak punya budget buat retreat ke Ubud), coba step ini:
- Identifikasi “titik berisik” lo. Apa sih yang bikin lo paling overwhelmed? Apakah grup WA kerja yang 24 jam nggak berhenti? Atau kebiasaan ngecek email sebelum tidur? Mulai dari situ. Matiin notifikasi grup WA di luar jam kerja. Itu udah slow living.
- Ciptakan “pulau kecil” di rutinitas. Nggak perlu 2 jam. Cukup 15 menit sehari di mana lo benar-benar sendiri. Nggak ada HP, nggak ada TV, nggak ada orang ngajak ngomong. Cuma lo dan kopi, atau lo dan jendela. Konsisten.
- Lawan “urgensi palsu”. Nggak semua pesan “P” harus dibales sekarang. Nggak semua email “URGENT” beneran urgent. Coba biasakan ngechat “akan saya bales jam 3 ya” atau matiin notifikasi email. Dunia nggak akan kiamat.
- Satu hal dalam satu waktu. Kalo lo lagi makan, ya makan. Jangan sambil scroll. Kalo lo lagi ngobrol, taruh HP. Rasain bedanya. Awalnya awkward, lama-lama lo akan rindu momen-momen itu.
Kesalahan Umum: Jangan Jadi “Slow Living” Palsu
Ini nih yang sering terjadi. Orang pengin slow living, tapi malah:
- Jadi judgmental. Merasa lebih “sadar” daripada orang lain. Lihat temen sibuk, dibilang “gak sadar diri”. Padahal slow living itu buat diri sendiri, bukan buat ngatain orang.
- Malah sibuk cari validasi. Beli buku slow living, ikut retreat, beli jurnal khusus, beli baju linen mahal, lalu fotoin semuanya buat Instagram. Ujung-ujungnya, sibuk juga. Bedanya, dulu sibuk kerja, sekarang sibuk “tampak slow living”.
- Merasa bersalah kalo lagi “cepat”. Iya, kadang kita butuh ngebut. Deadline mepet, proyek numpuk, itu wajar. Slow living bukan berarti anti-cepat. Tapi tahu kapan harus cepat dan kapan harus lambat.
Pada akhirnya, slow living itu cuma alat. Alat buat ingetin kita: hidup bukan cuma tentang apa yang lo capai, tapi juga tentang apa yang lo rasakan.
Di tengah kota yang terus berlari, mungkin tindakan paling berani justru… berhenti sebentar.
Lo setuju?
