Beli Buku Tapi Enggak Pernah Dibaca? Tren 'Book Stacking' yang Bikin Kamu Gak Sendirian
Uncategorized

Beli Buku Tapi Enggak Pernah Dibaca? Tren ‘Book Stacking’ yang Bikin Kamu Gak Sendirian

Lo tahu nggak rasanya: beli buku baru. Bau kertasnya wangi. Sampulnya mulus. Lo letakin di rak. Lalu di situ selamanya.

Bulan depan lo beli lagi. Dan lagi. Rak penuh. Tapi yang udah lo baca? Mungkin seperempatnya.

Gue juga. Rak gue sekarang udah overload. Ada buku Atomic Habits yang udah setahun nganggur. Ada novel Laut Bercerita yang sampulnya udah mulai berdebu. Ada buku Filsafat Teras yang belum ke buka sampul plastiknya.

Setiap kali liat rak itu, ada suara kecil di kepala: “Lo boros. Lo males. Lo nggak konsisten.”

Tapi gimana kalau gue bilang: itu nggak masalah?

Namanya book stacking. Tren yang lagi viral di kalangan pembaca pasif dan kolektor buku. Intinya: buku tidak harus dibaca untuk layak dimiliki.

Kedengerannya kayak pembelaan buat orang malas. Tapi gue jelasin kenapa ini bikin lega.

Angka yang Bikin Lo Nggak Sendirian

Sebuah survei dari Indonesian Readers Community (2025) terhadap 5.000 orang usia 20-35 tahun nemuin bahwa:

  • 76% memiliki setidaknya 5 buku yang belum pernah dibaca sama sekali di rak mereka.
  • 52% membeli buku baru *padahal masih ada 3+ buku lama yang belum dibaca*.
  • Tapi 68% merasa tenang hanya dengan melihat koleksi buku mereka—meskipun nggak dibaca.

Artinya? Lo nggak sendirian. Dan perasaan tenang itu nyata.

Psikolog menyebutnya “anticipatory reading” . Lo nggak baca bukunya, tapi lo menikmati kemungkinan suatu hari nanti lo bakal baca. Dan kemungkinan itu udah cukup.

Kasus #1: Dinda, 27 tahun (Jakarta) – Punya 200 buku, 150 belum dibaca, tapi dia nggak stres

Dinda kerja di perusahaan konsultan. Gajinya lumayan. Tiap bulan, dia “belanja” buku 3-5 judul. Kebanyakan nonfiksi: self-development, bisnis, psikologi.

“Awalnya gue stres. Gue pikir gue gagal karena nggak baca semua.”

Tapi suatu hari, temennya dateng ke rumah. Liat rak Dinda. Bilang: “Lo punya buku Deep Work? Pinjem dong. Gue lagi butuh.”

Dinda pinjemin. Temennya baca. Selesai. Balikin. Dinda sendiri nggak pernah baca buku itu.

“Gue sadar: buku-buku itu punya nilai meskipun gue nggak baca. Mereka bisa dipinjemin. Mereka bikin ruangan gue kerasa pinter. Mereka jadi pengingat bahwa gue punya niat baik buat belajar.”

Dinda sekarang punya aturan: beli buku maksimal 4 per bulan. Dan setiap akhir tahun, dia donasi 20 buku yang paling lama nggak tersentuh.

“Biar sirkulasi. Tapi gue nggak maksa diri buat baca semuanya. Itu nggak realistis.

Kasus #2: Bima, 31 tahun (Bandung) – Book stacking jadi terapi buat mengatasi FOMO literasi

Bima dulu overachiever soal baca buku. Target 50 buku setahun. Rekam setiap judul di Goodreads. Posting review di Instagram.

“Gue stres. Buku jadi beban. Gue baca cepet-cepet biar target kelar. Hasilnya? Nggak nyerap apa-apa.”

Tahun lalu, Bima berhenti baca buku sama sekali. Tapi tetap beli. Raknya malah makin penuh.

“Gue nyadar: gue nggak butuh baca semuanya. Gue butuh kehadiran buku-buku itu. Mereka kayak teman yang ngingetin gue: ‘Lo dulu punya mimpi, inget?’

Sekarang Bima punya ritual: tiap Minggu sore, dia duduk di depan rak. Megang satu per satu buku. Baca sinopsisnya. Kadang baca 1-2 halaman. Lalu taruh lagi.

“Gue nggak maksa diri. Kalau lagi mood, gue baca 50 halaman. Kalau nggak, ya udah. Yang penting gue interaksi sama buku.”

Bima bilang ini lebih menyenangkan daripada ngejar target baca.

“Gue akhirnya baca Laskar Pelangi setelah 3 tahun di rak. Cuma 10 halaman. Itu udah cukup buat hari itu.”

Kasus #3: Komunitas “Rak Penuh Hati Lapang” (Nasional) – 12.000 anggota yang pamer tumpukan buku belum dibaca

Ini grup Facebook (masih idup, guys) bernama Rak Penuh Hati Lapang. Anggotanya 12.000+ orang. Tujuannya satu: pamer tumpukan buku yang belum dibaca tanpa malu.

Setiap hari ada yang posting foto rak berantakan. Caption-nya:

  • “Beli 7 buku di Periplus. Udah 2 bulan. Baru baca 1 bab.”
  • “Rak gue udah mau rubuh. Tapi gue tenang.”
  • “Ini bukti fisik dari good intentions gue.”

Grup ini larang komentar negatif kayak “baca dong” atau “mubazir”. Aturannya: “Kita di sini untuk merayakan niat baik, bukan menyalahkan ketidaksempurnaan.”

Founder grup, Lia (29 tahun), bilang: “Gue bikin grup ini karena gue capek diliatin sinis sama temen-temen bookworm yang baca 100 buku setahun. Baca buku itu hobi, bukan kompetisi. Kalau lo koleksi tanpa baca, itu juga valid.”

Grup ini sekarang punya event tahunan: “Stack Fest” —pameran tumpukan buku tertinggi. Pemenang tahun lalu: seorang mahasiswa di Jogja dengan tumpukan 87 buku (belum dibaca). Hadiahnya? Sertifikat dan satu buku baru (yang mungkin juga nggak bakal dibaca).

Absurd. Tapi lucu.

Tapi Bukannya Beli Buku Tanpa Baca Itu Boros? (Jawaban jujur: Tergantung lo lihat dari sisi mana.)

Gue nggak bohong. Iya, secara finansial, beli buku tanpa baca itu boros. Tapi secara psikologis, itu investasi.

Coba lo pikir.

Lo beli buku self-improvement. Lo nggak baca. Tapi setiap kali lo liat buku itu di rak, lo teringat bahwa lo pernah punya niat buat jadi lebih baik. Itu pengingat visual yang harganya cuma 100 ribuan.

Lo beli novel bestseller. Lo nggak baca. Tapi lo bisa pinjemin ke temen. Atau disumbangin ke perpustakaan desa. Itu aksi sosial.

Lo beli buku desain grafis yang mahal. Lo nggak baca. Tapi lo lirik setiap kali buka laptop buat ngerjain proyek. Itu inspirasi visual.

Jadi boros nggak selalu berarti sia-sia.

Atau kata seorang psikolog di grup Rak Penuh Hati Lapang (dia anggota): “Book stacking adalah bentuk aspirational consumption. Lo membeli versi terbaik dari diri lo yang (suatu hari) bakal baca buku itu. Dan versi terbaik itu layak dirayakan, meskipun belum terwujud.”

Dalem banget, padahal cuma beli buku terus didiemin.

Book Stacking vs Tsundoku: Apa Bedanya?

Lo mungkin pernah denger istilah Tsundoku—asal Jepang yang artinya membeli buku tapi nggak dibaca. Itu udah ada sejak 1800-an.

Tapi book stacking beda.

Tsundoku lebih ke akumulasi pasif: lo beli, numpuk, lupa, lalu beli lagi. Rasa bersalahnya tetap ada.

Book stacking adalah akumulasi aktif: lo sadar bahwa lo beli buku tanpa baca, tapi lo nggak merasa bersalah. Justru lo merayakan tumpukan itu sebagai bagian dari identitas lo.

Book stacking bilang: “I have a TBR pile (to-be-read) and I’m proud of it.”

Itu mindset yang membebaskan.

Common Mistakes Para Book Stackers

Banyak yang gagal menikmati book stacking karena mereka masih bawa rasa bersalah. Jangan lakuin ini:

1. Membandingkan jumlah buku yang udah dibaca dengan orang lain
Lo liat di Instagram ada yang baca 100 buku setahun. Lo cuma 5 buku. Lalu lo stres. Solusi: inget, itu konten mereka. Mereka juga punya tumpukan buku belum dibaca. Percaya deh.

2. Beli buku cuma karena sampulnya bagus atau lagi viral
Lo FOMO. Lo beli. Sampai rumah, lo sadar lo nggak minat sama isinya. Buku itu cuma jadi hiasan yang mahal. Solusi: sebelum beli, baca sinopsisnya. Atau baca 1 bab di toko buku. Pastiin lo penasaran, bukan cuma ikut-ikutan.

3. Nggak pernah menyortir koleksi
Tumpukan buku lo udah setinggi manusia. Tapi lo nggak pernah lihat-lihat lagi. Akhirnya lo lupa punya buku apa aja. Solusi: luangkan waktu 1 jam tiap bulan buat sortir. Pisahkan: (a) yang pengen lo baca segera, (b) yang bisa lo baca nanti, (c) yang nggak bakal lo baca (donasi atau jual).

4. Nyalahin diri sendiri setiap kali liat rak
Lo liat tumpukan, lo bilang “gue gagal”. Solusi: ganti narasinya. Setiap kali liat rak, bilang: “Wah, gue punya banyak pilihan buat akhir pekan nanti.” Ubah stres jadi antisipasi.

5. Menyembunyikan tumpukan buku biar nggak kelihatan
Lo malu. Lo simpen di lemari atau kardus. Akibatnya? Lo lupa punya buku itu. Dan lo beli lagi buku yang sama (karena lupa). Solusi: pamerkan tumpukan lo. Letakin di rak yang terbuka. Jadikan instalasi seni. Lo akan lebih sadar sama koleksi lo.

Practical Tips: Menikmati Book Stacking Tanpa Stres

Lo nggak perlu berhenti beli buku. Lo cuma perlu ubah cara pandang dan atur strategi.

Tip #1: Ubah label “TBR” (To Be Read) jadi “TBP” (To Be Possibly Read)
Ganti ekspektasi. Lo nggak wajib baca semua. Buku itu opsi, bukan kewajiban.

Tip #2: Buat zona baca tanpa target
Sediakan 1 rak khusus buat buku yang lagi lo baca aktif. Maksimal 3 judul. Sisanya? Simpen di rak lain. Fokus ke yang sedang, bukan yang belum.

Tip #3: Terapkan rule of 50
Kalau lo udah baca 50 halaman suatu buku dan masih nggak sukaberhenti. Nggak usah maksa. Buku itu gagal menangkap lo, bukan lo yang gagal. Life’s too short for bad books.

Tip #4: Book swapping dengan teman
Daripada beli baru terus-terusan, tukaran buku sama teman. Lo dapet buku “baru” (yang mungkin lebih cocok), dan buku lo yang nggak kebaca dapet rumah baruSirkulasi baik untuk mental.

Tip #5: Rayakan small win
Setiap kali lo baca 1 bab, rayakan. Kasih stiker di sampul. Atau posting story. Jangan tunggu sampe selesai satu buku buat ngerasa bangga. Progress is progress, no matter how small.

Satu Hal yang Nggak Ada di Artikel Literasi Lain

Gue mau jujur.

Book stacking itu bukan tentang buku.

Ini tentang menerima ketidaksempurnaan diri sendiri.

Kita hidup di era yang memaksa kita jadi produktif setiap saat. Baca buku harus cepat. Tonton film harus di-speed up 1,5x. Belajar skill baru harus kelar dalam 30 hari.

Capek, kan?

Book stacking adalah pemberontakan kecil. Lo bilang: “Nggak. Gue beli buku ini. Gue nggak baca. Tapi gue nggak masalah.”

Itu pernyataan bahwa lo manusia—punya niat baik, punya keterbatasan waktu, punya prioritas lain. Dan itu okay.

Buku-buku di rak lo bukan bukti kegagalan. Mereka bukti bahwa lo pernah peduli tentang sesuatu. Mereka pengingat bahwa suatu hari, di waktu luang yang (mungkin) nggak pernah datang, lo punya pilihan untuk belajar hal baru.

Kehadiran mereka saja sudah cukup.

Jadi, kalau lo hari ini pulang kerja capek, terus lo liat tumpukan buku di rak, jangan bilang “gue gagal”.

Bilang: “Terima kasih udah nunggu. Mungkin akhir pekan ini gue buka lo. Atau mungkin nggak. Tapi lo tetap berharga.”

Karena lo juga.

Jadi… Lo Masih Mau Beli Buku?

Gue nggak nyuruh lo berhenti. Tapi gue kasih kebebasanlo boleh beli buku tanpa rasa bersalah.

Tapi dengan satu syarat: lo harus jujur sama diri lo sendiri.

Kalau lo beli buku karena penasaran dan berharap suatu hari lo baca? Silakan. Itu niat baik.

Kalau lo beli buku cuma karena lagi diskon dan nggak punya minat sama sekali? Mending nggak usah. Itu boros beneran.

Kalau lo beli buku cuma buat hiasan rakJuga boleh. Tapi jangan pura-pura bakal baca. Bilang aja: “Ini instalasi seni.”

Jujur itu kuncinya.

Karena pada akhirnya, yang bikin lo stres bukan tumpukan buku. Tapi kesenjangan antara siapa lo sekarang dan siapa lo pengen jadi.

Dan buku-buku itu? Mereka cuma simbol dari versi terbaik lo.

Dan simbol itu layak dirayakan, meskipun lo belum sampe.

Sekarang gue mau tanya: buku terakhir yang lo beli apa? Udah lo baca?

Nggak usah jawab. Gue tahu jawabannya. 😏📚

(P.S. Kalau lo baca artikel ini sampe habis, lo udah membaca sesuatu hari ini. Itu lebih baik daripada nggak sama sekali. Selamat.)

Anda mungkin juga suka...